SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA, TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

Minggu, 23 Desember 2012

Makalah Filsafat Tuhan

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kepercayaan adanya Tuhan adalah dasar utama dalam paham keagamaan. Ketika seseorang mulai menyadari eksistensi dirinya, maka timbullah tanda tanya dalam hatinya tentang berbagai hal. Dalam hatinya yang dalam memancar kecenderungan untuk tahu berbagai rahasia yang merupakan bentuk misteri yang terselubung. Dalam membicarakan persoalan kepercayaan kepada Tuhan ada perbedaan antara Tuhan dengan ide tentang Tuhan. Ada tiga hal utama, yaitu ; pertama, manusia bisa mempergunakan simbol dalam segala bidang, dan simbol akan berubah seiring dengan perubahan dan perkembangan kecerdasan dan pengetahuan manusia. Manusia sudah menyembah Tuhan sebelum munculnya doktrin dan problem-problem filsafat mengenai Tuhan. Kedua, manusia menemukan kelompok-kelompok lain yang mempunyai ide tentang Tuhan yang berlainan dengan keyakinan yang ia miliki, timbullah pertanyaan, yang manakah ide yang benar tentang Tuhan. Dengan perkembangan pengetahuan, konsep-konsep lama tidak cukup dan memadai lagi untuk mempertahankan ide yang sama atau mengubahnya atau bahkan meninggalkannya. Ketiga, tidak ada pandangan individual tentang Tuhan yang dianggap final dan memadai. Pengetahuan berkembang dan tidak sempurna. Manusia merasa sukar untuk menjelaskan keyakinannya yang mendalam dengan cara yang memuaskan.
Dalam pembahasan makalah ini penulis akan membahas dan mempelajari tentang tuhan.
B.     Rumusan Masalah
a.       Membahas tentang apa atau siapa Tuhan
b.      Apakah Tuhan itu ada?.

C.    Tujuan Pembahasan
a.       Untuk mengetahui apa dan siapa itu Tuhan
b.      Menjelaskan dan memberi beberapa bukti bahwa tuhan itu memang benar-benar ada






BAB II
PEMBAHASAN
A.   Apa atau Siapa Tuhan

            Spictitus (60-140 M) berpendapat bahwa Tekad mempercayai Tuhan itu kekal dan terus menerus seperti bernafas. Tapi sebaliknya pendapat dari S. Bereen; Tidak ada yang berani (nekad) mengingkari Tuhan selain daripada manusia. Lalu apakah Tuhan tersebut? Aristoteles mengatakan Tuhan adalah neosis atau noeseoos, yaitu akal yang tertinggi. Dalam filsafat Neoplatonisme, Tuhan berarti keesaan mutlak. Decrates memaknakan Tuhan sebagai puncak dari rasionalisme. Hegel mengartikan Tuhan dengan roh mutlak yang insaf akan diri sendiri.

Edgar S. Brightman, mencoba mendevinisikan Tuhan dengan sesuatu yang tertinggi yang mengalami alam semesta, yang menguasai proses alam semesta, untuk mencapai tujuan yang mengandung nilai paling tinggi. Dijelaskan, Tuhan sebagai Yang-Mengalami, yakni suatu kumpulan kesadaran yang dirasakan sebagai suatu keseluruhan. Yang-Mempunyai "identitas diri" dan meliputi "isi, bentuk dan kegiatan". Brightman berusaha menunjukkan hipotesanya tentang adanya Tuhan, karena adanya kebenaran serta akal dan sistem (yang tidak dapat dijelaskan atas dasar naturalisme). Dalam arti tertentu kebenaran adalah Tuhan, karena masing-masing merupakan sistem atau kesatuan.

Tuhan adalah sesuatu yang diagungkan, yang dilebihkan dari yang lain, tempat manusia mengadu dalam segala persoalan hidupnya. Dari batasan ini seolah-olah tidak ada satu pun manusia yang tidak ber-tuhan, hanya masalahnya siapakah yang dijadikan Tuhan oleh manusia. Umat Islam mutlak yang superada dan yang dipertuhan itu adalah Allah Subhahahu Wa Ta'ala, yang dijelaskan dalam al-Qur'an surat at-Taghabun : 14 ; bahwa panggilan untuk yang superada itu adalah Allah; sebab Allah sendiri memperkenalkan dirinya dengan sebutan Allah. Harun Nasution dalam filsafat al-Kindi, bahwa Tuhan itu unik, tidak mengandung arti juz'i (particular) dan pula tidak mengandung arti kulli (universal). Ia semata-mata satu hanya Ia-lah yang satu, selain-Nya mengandung arti banyak.

Beberapa Argumen Tentang Tuhan

1. Argumen Ontologis
Ontologi adalah teori tentang hakikat wujud, tentang hakikat yang ada. Argumen ontologis tentang hakikat wujud ini semata-mata berdasarkan atas argumen-argumen logika yang logis dan rasional. Argumen ini diperkenalkan pertama kali oleh Plato (428-348 SM), bahwa tiap-tiap yang ada di alam nyata mesti ada ideanya. Yang dimaksud dengan idea adalah definisi atau konsep universal dari setiap sesuatu. Yang ingin membuktikan dari ideanya, Plato ini, bahwa alam bersumber pada suatu kekuatan gaib yang bernama the Absolute, atau yang maha mutlak baik atau Tuhan.
ST Agustine (354-430 M), bahwa manusia mengetahui dari pengalamannya dalam hidup bahwa dalam alam ini ada kebenaran. Namun akal manusia terkadang merasa ragu-ragu bahwa yang diketahuinya itu adalah kebenaran. Maksudnya adalah akal manusia mengetahui bahwa di atasnya masih ada suatu kebenaran mutlak dan kekal, kebenaran ini yang disebut Tuhan.

ST. Anselmus (1033-1109), bahwa manusia dapat memikirkan sesuatu yang kebesarannya tak dapat melebihi dan diatasi oleh segala yang ada. Zat yang serupa ini mesti mempunyai wujud dalam hakekat. Sesuatu yang maha besar, maha sempurna itu mesti mempunyai wujud, maka Tuhan mempunyai wujud, oleh karena itu Tuhan ada.
Rene Descarrtes memasuki kemestian adanya Tuhan melalui ilmu pasti. Bahwa wujud itu terkandung dalam zat Maha Sempurna dan Maha Besar, yang tidak boleh tidak mesti ada dalam zat terbesar dan tersempurna yang dibayangkan itu. Itulah Tuhan.
Ibn Sina salah seorang filosof muslim juga mengembangkan argumen ontologi. Yang menurutnya ada tiga macam sesuatu yang ada, yaitu :

1. Penting dalam dirinya sendiri, tidak perlu kepada sebab lain untuk
kejadiannya, selain dirinya sendiri (Tuhan).

2. Yang berkehendak kepada yang lain, yaitu makhluk kepada yang menjadikannya.

3. Makhluk mungkin, yaitu bisa ada dan bisa tidak ada, dan dia sendiri tidak
butuh kepada kejadiannya.

Inti dari argumen ini adalah bahwa manusia ini memiliki konsep tentang sesuatu yang sempurna. Dan bila ia berfikir tentang sesuatu yang sempurna, niscaya terpikirkan olehnya tentang adanya sesuatu yang lain yang lebih sempurna itu mengantarkan pada adanya "Dzat Yang Maha Sempurna" yang tiada kesempurnaan lain selain Dia.
Argumen ini juga mendapat tantangan, bahwa wujud yang ada di dunia yang alam nyata ini belum tentu sama dengan bayangan aslinya. Sebab alam aslinya itu alam ghaib di atas jangkauan indera manusia. Immanuel Kant pun ikut mengkritik argumen ontologi ini dengan alasan wujud kepada konsep tentang sesuatu tidak membawa hal yang baru bagi konsep itu. Dengan kata lain konsep tentang kursi bayangan dan konsep kursi yang mempunyai wujud tidak ada perbedaannya. Oleh karenanya argumen ini tidak meyakinkan atheis atau agnostic untuk percaya pada adanya Tuhan.

2. Argumen Kosmologis
Argumen kosmologi untuk pertama kalinya dikenalkan oleh Aristoteles, murid Plato. Cosmological argument atau dalil tentang penciptaan adalah merupakan pembuktian paling tua dan sederhana tentang pembuktian adanya Tuhan. Bahwa tiap benda yang dapat ditangkap panca indera mempunyai materi dan bentuk (matter and form). Bentuk merupakan hakikat atau konsep universal atau definisi sesuatu, maka ia adalah kekal dan tidak berubah-ubah. Akan tetapi dalam panca indera terdapat perubahan.
Al-Kindi berpendapat bahwa alam ini diciptakan dan yang menciptakannya adalah Allah. Segala yang terjadi dalam alam ini mempunyai hubungan sebab dan musabab/ Sebab mempunyai efek pada musabab. Rentetan sebab musabab ini berakhir kepada sebab pertama yaitu Allah pencipta alam.

Sedang Al-Farabi berargumen bahwa alam ini bersifat mumkin wujudnya dan oleh karena itu berhajat pada suatu zat yang bersifat wajib wujudnya untuk merubah kemungkinan wujudnya kepada yang hakiki, yaitu sebagai sebab bagi terciptanya wujud yang mungkin itu. Tuhan itu ada dalam arti wajib al-wujud atau necessary being, Tuhan itu mesti ada, berarti bahwa wujud Tuhan itu tak berhajat pada bukti, sebagaimana bundaran tak berhajat pada bukti. Ini adalah suatu hal yang jelas dengan sendirinya, tak memerlukan bukti.

Inti dari argumen ini adalah bahwa segala sesuatu yang ada pasti ada yang menciptakan, sebab seluruh perwujudan yang ada di alam ini, selamanya bergantung pada adanya perwujudan yang lain. Tidak mungkin ada di alam ini sesuatu yang wujud tanpa adanya yang memunculkan. Keteraturan alam ini pasti ada yang mengatur dan pasti ada yang menjadikan sebabnya. Sebab utama disebut dengan prima causa atau asbabul asbab. Sedangkan rangkaian peristiwa atau gerakan itu, akan mengantarkan pula kepada adanya penggerak utama atau prima causa tersebut.
Kalau rangkaian sebab akibat atau gerakan itu terus diperturutkan niscaya terjadi "daur" (lingkaran gerak yang tak berujung atau berawal) atau tastaltsul (rangkaian gerak yang tidak berawal atau berakhir). Menurut akal yang sehat bahwa teori daur atau tastaltsul ini tidak mungkin. Bila tidak bisa diterima akal, maka harus dikatakan bahwa prima causa (penyebab utama) itu merupakan penggerak yang tidak digerakkan atau penyebab yang tidak diawali oleh penyebab lain. Prima causa atau penggerak yang tidak digerakkan oleh yang lain itu tiada lain adalah Allah.
Walau dalil ini dikritik juga oleh Immanuel Kant, kalau wujud alam ini tidak wajib, apa sebabnya Dzat yang wajibul wujud ini menciptakan alam. Iqbal mengkritik, mestikah wajibul wujud itu suatu zat yang disebut Tuhan? Tidakkah bisa kosmos ini bersifat wajibul wujud itu? Keadaan argumen kosmologis bersifat kurang kuat didasarkan atas hakekat bahwa Aristoteles tak pernah bertanya : Adakah Tuhan? Logikanya mengenai bentuk dan materi membawa ia kepada bentuk yang tak mempunyai materi, sebagai akhir rentetan dari gerak dan penggerak yang timbul dari hubungan bentuk dan materi. Bentuk ini bukanlah Tuhan Pencipta Alam, tetapi penggerak pertama dari segala gerak.

3. Argumen Teleologis
Bahwa argumen ini merupakan penerapan dari argumen kosmologis dalam bentuknya yang lain. Segala perwujudan ini tersusun dalam sistim yang teratur, dan setiap benda yang di alam semesta ini memiliki tujuan-tujuan (theo;tujuan, teologis;ada tujuannya) tertentu. Ala mini keseluruhannya berevolusi dan beredar kepada suatu tujuan tertentu. Keteraturan alam tidak bisa tidak harus ada yang mengatur. Sumber keteraturan itu adalah Allah.
Dalam teologi, segala sesuatu dipandang sebagai organisme yang tersusun dari bagian-bagian yang mempunyai hubungan erat dan bekerja sama untuk kepentingan organisme tersebut. Dunia dalam pandangan teologis tersusun dari bagian-bagian yang erat hubungannya satu sama lainnya dan bekerjasama untuk tujuan tertentu. Tujuan ini ialah kebaikan dunia dalam keseluruhannya. Lontaran kritik dalam argumen ini bahwa alam tidak mempunyai tujuan, alasannya :

a. Permukaan bumi ada yang tandus, subur, apa perlunya.
b. Dalam diri manusia ada usus buntu, yang tidak ada perlunya bahkan berbahaya.
c. Anak-anak banyak yang meninggal pada usia relative muda, apa perlunya.
d. Bangsa-bangsa yang musnah dari permukaan bumi ini itupun apa perlunya.
e. Apa perlunya kejahatan dan pengrusakan yang ada di ala mini, padahal jelas ada larangan yang datang dari Allah untuk berbuat jahat dan merusak bumi.

4. Argumen Moral
Immanuel Kant mempelopori argumen Moral menyatakan bahwa perbuatan baik jadi baik tidak karena akibat-akibat baik yang akan ditimbulkan dari perbuatan itu dan tidak pula agama mengajarkan bahwa perbuatan itu baik. Perbuatan baik itu karena manusia tahu dari perasaan yang tertanam dalam jiwanya bahwa ia diperintahkan untuk berbuat baik. Perasaan manusia berkewajiban untuk melaksanakan perbuatan yang baik dan untuk menjauhi perbuatan buruk, tidak diperoleh dari pengalaman dunia, tetapi dibawa dari lahir. Manusia lahir dengan perasaan itu. Kalau manusia merasa bahwa dalam dirinya ada perintah mutlak untuk mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk, dan kalau perintah itu diperoleh bukan dari pengalaman tetapi telah terdapat dalam diri manusia, maka perintah itu mesti berasal dari suatu dzat yang tahu baik dan buruk. Dzat inilah yang disebut Tuhan. Walaupun argument ini mendapat kritik pula, yang berpangkal dari pengakuan yang ada perasaan moral yang tertanam dalam jiwa manusia yang berasal dari luar diri manusia, tidak dapat diterima, karena norma-norma moral tersebut bisa tidak objektif.

5. Argumen Epistemologis
Ibn Taimiyah menyodorkan argumen epistemologis yang bertujuan untuk membuktikan adanya Tuhan secara meyakinkan melalui teori-teori pengetahuan atau ilmu. Ilmu itu mempunyai dua sifat, ta'bi, yang dapat diterjemahkan obyektif; dan matbu' yang dapat diterjemahkan subyektif. Suatu ilmu yang keberadaan obyeknya tidak bergantung kepada ada dan tidak adanya pengetahuan si subyek (manusia) tentang obyek tersebut. Sedangkan yang bersifat subyektif ialah pengetahuan manusia sebagai subyek tentang obyek ilmu itu. Atau suatu ilmu itu dinyatakan ada kalau si subyek atau manusia mengetahui keberadaannya. Kemudian dalam Islam, (yang penulis menitik beratkan tentang Tuhan dalam agama Islam), manusia dengan Tuhannya digambarkan oleh Imaduddin, bahwa semua dari kita yakin bahwa matahari itu adalah sumber energi, hanya sejauh mana manusia tadi memanfaatkan panas dari matahari tersebut. Ada yang sangat maksimal dan ada yang hanya untuk keperluan pribadinya saja. Seperti petani yang hanya untuk keperluan tanah garapannya saja, nelayan yang sebatas untuk menangkap ikan saja, berbeda dengan teknokrat yang memanfaatkan panas matahari tersebut untuk segala macam kehidupan manusia. Hal ini tidak jauh dengan pandangan sebagian manusia yang memandang Tuhan untuk hanya sebagian keperluannya saja, di waktu susah saja atau di waktu senang saja, berbeda dengan ulama yang memandang tuhan itu adalah tempat mengadu di waktu senang dan susah.
B.   http://www.mahasiswakeren.com/p/isthere1.jpgApakah Tuhan itu ada?
Apakah Tuhan itu ada? Apakah ada bukti tentang Tuhan? Berikut ini adalah alasan-alasan terbuka dan langsung untuk mempercayai keberadaan Tuhan...
Tidakkah saudara mau seseorang menunjukkan kepada saudara bukti bahwa Tuhan itu ada? Tanpa paksaan. Tanpa pernyataan, "Percaya sajalah." Baiklah, ini adalah suatu usaha yang baik untuk secara terus terang menawarkan beberapa alasan yang menyatakan bahwa Tuhan ada.
Tetapi pikirkanlah ini. Jika seseorang menentang keberadaan Tuhan, maka bukti-bukti yang ada dapat dirasionalkan atau dijelaskan lebih jauh. Seperti jika ada seseorang yang menolak untuk mempercayai bahwa ada manusia yang telah berjalan di bulan, maka tidak ada sejumlah informasi yang akan mengubah pikiran mereka. fotografer atau astronot yang berjalan di bulan, wawancara dengan astronot, batu-batu di bulan...semua bukti akan menjadi tidak berguna karena orang tersebut telah menyimpulkan bahwa manusia tidak dapat pergi ke bulan.
Sebelum saudara melihat fakta mengenai keberadaan Tuhan, tanyakan pada dirimu sendiri, Jika Tuhan ada, akankah saya ingin mengenalNya? Berikut ini beberapa alasan untuk dipertimbangkan....
1. Apakah Tuhan ada? Kerumitan dunia kita menunjukkan bahwa ada seorang Perancang yang tidak hanya menciptakan alam semesta kita, tetapi juga menopangnya sampai hari ini.
Banyak contoh yang menunjukan rancangan Tuhan yang tiada akhirnya. Beberapa diantaranya:
Bumi... ukurannya sangat sempurna. Ukuran Bumi dan gaya gravitasi bersesuaian menjaga suatu lapisan yang tipis yang benyak mengandung gas nitrogen dan oksigen, yang hanya berjarak sekitar 50 mil di atas permukaan Bumi. Jika Bumi lebih kecil, maka atmosfer tidak akan terbentuk, seperti planet Merkurius. Jika Bumi lebih besar maka atmosfernya akan mengandung hydrogen bebas seperti Yupiter. Bumi adalah satu-satunya planet yang dikenal yang diselimuti oleh suatu atmosfer yang terdiri dari campuran gas untuk menunjang kehidupan tumbuhan, binatang dan manusia.
http://www.mahasiswakeren.com/p/isthere2.jpgKedudukan Bumi berada pada jarak yang sesuai dari matahari yang suhunya berubah-ubah antara -30 derajat sampai +120 derajat. Jika jarak bumi jauh dari matahari, kita semua akan membeku. Jika jaraknya lebih dekat maka kita akan terbakar. Bahkan mungkin tidak akan ada kehidupan di atas bumi jika pada posisi Bumi dan matahari hanya berbeda tipis. Bumi berada pada kedudukan yang tepat dari matahari ketika berotasi mengelilingi matahari pada kecepatan hampir 67.000 mph. IBumi juga berputar pada porosnya dan membuat seluruh permukaannya menjadi panas dan dingin setiap hari.
Bulan juga memiliki jarak dan ukuran yang tepat dari bumi untuk tarikan gravitasinya. Bulan menciptakan pergerakan dan pasang surut air laut sehingga air laut tidak berhenti, tetapi akan mengalir diantara benua-benua.
Air... tidak berwarna, tidak berbau dan tidak memiliki rasa, dan tidak ada makhluk yang dapat bertahan hidup tanpa air. Tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia banyak mengandung air (kira-kira dua pertiga tubuh manusia terdiri dari air). Anda akan memahami mengapa air memiliki karakteristik yang unik untuk kehidupan:
Air memiliki titik didih dan titik beku yang tinggi. Air membuat kita dapat hidup dalam lingkungan yang suhunya berubah-ubah dan menjaga suhu tubuh kita tetap stabil 98,6 derajat.
http://www.mahasiswakeren.com/p/isthere3.jpgAir adalah suatu bahan pelarut yang universal. Sifat air mengandung ribuan bahan-kimia, mineral dan nutrisi yang dapat dibawa ke seluruh tubuh kita dan ke dalam kandungan darah yang paling kecil.
Secara kimiawi air juga bersifat netral. Tanpa mempengaruhi struktur dari unsur yang di bawanya, air memungkinkan makanan, obat-obatan dan mineral dapat diserap dan digunakan oleh tubuh.
Air memiliki suatu tekanan permukaan yang unik. Oleh karena itu air di dalam tumbuhan dapat mengalir keatas melawan gaya gravitasi bumi, membawa air dan nutrisi ke bagian pohon yang paling tinggi.
Air membeku di bagian atas dan mengapung sehingga ikan dapat hidup di musim dingin.
Sembilan puluh tujuh persen air di Bumi berupa lautan. Tetapi ada suatu sistem di Bumi kita yang dirancang untuk memindahkan garam dari air dan kemudian mendistribusikan air itu seluruh belahan dunia. Penguapan mengambil air laut, meninggalkan garam, dan membentuk awan yang mudah dipindahkan oleh angin untuk mencurahkan air di atas daratan, untuk tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia. Ini merupakan suatu sistem pemurnian dan persediaan yang menopang kehidupan diatas planet ini, suatu sistem yang digunakan kembali dan didaur ulang.
Otak manusia... pada saat yang bersamaaan memproses sejumlah informasi yang luar biasa banyaknya.. Otak saudara dapat menangkap semua object dan warna yang saudara lihat, suhu di sekitarmu, tekanan kakimu terhadap lantai, suara di sekitarmu, kekeringan mulutmu, bahkan permukaan papan tombolmu. Otak saudara menjaga dan memproses semua emosi, pikiran dan ingatan saudara. Pada saat yang bersamaan otak saudara terus menjaga fungsi yang berkelanjutan terhadap tubuh saudara seperti pola bernafas saudara, pergerakan kelopak mata, rasa lapar dan pergerakan otot di tangan saudara.
http://www.mahasiswakeren.com/p/isthere4.jpgOtak manusia memproses lebih dari satu juta pesan dalam satu detik. Otak saudara menimbang pentingnya semua data ini, menyaring keluar yang tidak penting. Fubgsi ini akan membuat saudara memusatkan dan beroperasi secara efektif di dunia saudara. Satu otak akan menerima lebih dari satu juta informasi tiap detik, dan mengevaluasi pentingnya informasi tersebut dan membiarkan saudara untuk melakukan informasi yang paling penting...Apakah itu diakibatkan oleh kesempatan? Apakah karena penyebab biologis, yang dengan sempurna membentuk suatu jaringan yang benar, aliran darah, neurons, struktur? Fungsi otak berbeda dengan organ-organ lainnya. Ada suatu kecerdasan didalamnya, kemampuan untuk memberi alasan, untuk menghasilkan perasaan, untuk bermimpi dan merencanakan sesuatu, untuk mengambil tindakan dan berhubungan dengan orang lain.
Mata... dapat berbeda dengan tujuh juta warna. Mata memiliki focus yang otomatis dan menangani 1,5 juta pesan yang mengejutkan - dengan serempak. Evolusi berpusat pada mutasi dan perubahan dari dan di dalam organisme yang ada. Bahkan evolusi itu sendiri tidak secara penuh menjelaskan sumber awal dari mata atau otak - awal dari organisme yang hidup adalah dari benda mati.
2. Apakah Tuhan ada? Alam semesta memiliki sebuah awal - apa yang menyebabkannya?
Para ilmuwan diyakinkan bahwa alam semesta kita di awali dengan satu ledakan energi dan cahaya yang dahsyat, yang sekarang kita sebut sebagai Big Bang. Ini menjadi awal yang tunggal terhadap segala sesuatu yang ada: asalmula alam semesta, asal mula langit, dan bahkan asal mula waktu itu sendiri.
Ahli astrofisika Robert Jastrow, seorang agnotis, menyatakan, "Benih dari segala sesuatu yang telah terjadi di alam semesta ini ditanam di dalam saat-saat pertama itu; setiap bintang, setiap planet dan setiap makhluk hidup di alam semesta menjadi nyata sebagai hasil peristiwa yang di tata dalam pergerakan pada saat terjadi ledakan kosmis tersebut... Alam semesta bercahaya kepada makhluk hidup, dan kita tidak dapat menemukan apa yang menyebabkannya terjadi.
Steven Weinberg, peraih Nobel dalam ilmu fisika, berkata tentang ledakan ini, "alam semesta adalah sekitar seratus ribu juta dengan skala seratus derajat...dan alam semesta dipenuhi dengan cahaya."
Alam semesta tidak selalu ada, tapi memiliki.sebuah awal...apa yang menyebabkannya? Para ilmuwan tidak memiliki penjelasan tentang ledakan cahaya dan materi yang terjadi tiba-tiba tersebut.
3. Apakah Tuhan ada? Alam semesta bekerja dengan hukum alam yang seragam. Mengapa demikian?
Banyak hidup tampak tidak pasti, tapi lihat apa yang dapat kita harapkan dari hari ke hari: gaya berat tetap, secangkir kopi panas yang ditinggalkan di atas sebuah meja akan menjadi dingin, bumi berotasi dalam 24 jam yang sama, dan kecepatan cahaya tidak berubah -- di atas bumi atau di dalam galaksi yang jauh dari kita.
Bagaimana kita dapat mengidentifikasi hukum alam yang tidak pernah berubah? Mengapa alam semesta sangat rapi dan dapat dipercaya?
"Para ilmuwan terbesar telah diserang dengan sesuatu yang aneh ini. Tidak ada kebutuhan yang masuk akal untuk alam semesta yang mematuhi aturan, biarkan hal itu sendiri yang mentaati aturan-aturan matematika. Keheranan datang dari pengenalan bahwa alam semesta tidak harus bertindak seperti ini. Mudah untuk membayangkan suatu alam semesta di mana kondisinya berubah tidak terduga dari saat ke saat, atau bahkan suatu alam semesta di mana banyak benda yang meletus keluar dan masuk dari suatu keberadaan."
Richard Feynman, pemenang Hadiah Nobel untuk elektrodinamika kuantum, mengatakan, "Mengapa alam ini matematis merupakan suatu misteri...Fakta bahwa sama sekali ada aturan adalah semacam keajaiban."
4. Apakah Tuhan ada? Kode DNA menginformasikan dan memprogram kebiasaan sel.
http://www.mahasiswakeren.com/p/istheredna.jpgSemua perintah, pengajaran, pelatihan dilakukan dengan suatu tujuan. Seseorang yang menulis sebuah buku petunjuk, juga melakukannya dengan suatu tujuan. Apakah saudara tahu bahwa di setiap sel dalam tubuh kita ada suatu kode perintah yang sangat terperinci, seperti sebuah program komputer miniatur? Seperti yang saudara tahu, sebuah program komputer terdiri dari yang angka nol dan satu, seperti ini: 110010101011000. Cara mereka diatur memerintahkan kepada program komputer apa yang harus dilakukan. Kode DNA di setiap sel kita sangat mirip. Kode tersebut terdiri dari empat bahan kimia disingkat oleh para ilmuwan sebagai, A, T, G, dan C. Kode-kode tersebut diatur di dalam sel manusia seperti ini: CGTGTGACTCGCTCCTGAT dan seterusnya. Ada tiga milyar huruf ini di dalam setiap sel manusia!!
Baik, seperti ketika saudara dapat memprogram telepon saudara untuk memiliki tanda bunyi sebagai alas an khusus, DNA menginstruksikan sel. DNA adalah suatu program tiga juta huruf yang memerintahkan sel untuk bertindak dengan cara tertentu. Ini merupakan suatu instruksi penuh yang manual.
http://www.mahasiswakeren.com/p/istherecomp.jpgMengapa ini sangat mengagumkan? Setiap orang harus bertanya....bagaimana program informasi ini berputar di dalam setiap sel manusia? Ini bukan hanya sekedar sesuatu yang bersifat kimiawi. Ini adalah sesuatu yang kimiawi yang menginstruksikan kode tersebut dalam suatu cara yang sangat terperinci, tepatnya bagaimana tubuh setiap orang harus berkembang.
Alam, penyebab biologi sepenuhnya kurang sebagai suatu penjelasan ketika informasi yang terprogram dilibatkan. Saudara tidak dapat menemukan suatu perintah, informasi yang tepat seperti ini, tanpa seseorang yang dengan sengaja membangunnya.

C.   Keteraturan Sebagai Bukti Keberadaan Tuhan
Akal kita tidak akan pernah bisa menerima bahwa semua wujud yang ada di alam semesta ini terwujud secara kebetulan saja, dan bahwa sistem wujud itu muncul begitu saja. Akal kita tidak bisa menerima bahwa sejumlah potongan batu bata telah berkumpul bersama-sama secara kebetulan dan dengan sendirinya untuk membentuk sebuah rumah.
Menurut teori peluang, sebagai contoh, bila kita mengocok huruf yang tertulis dalam kertas masing-masing bertuliskan A, B, C hingga Z (ada 26 huruf). Kemudian kita ambil satu demi satu dan diletakkan di atas meja berurutan. Maka peluang kemunculan huruf-huruf tersebut berurutan ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ adalah kurang dari 0,0000000000000000000000000025 atau kurang dari seperempatratus trilyun trilyun.
Dalam tubuh manusia (70 kg) terdapat sekitar 7 trilyun trilyun trilyun atom (99%nya adalah Hidrogen, Oksigen dan Karbon).  Bisakah kita bayangkan betapa kecil kemungkinan 7 trilyun trilyun trilyun atom ini membentuk, menyusun, berinteraksi dengan sangat kompleks secara “kebetulan” sehingga seorang manusia mewujud di dunia dengan kelengkapan sistem kehidupannyanya ?
Bagaimana pula dengan masyarakat manusia yang terdiri atas milyaran manusia dan tak terhitung spesies-spesies tumbuhan dan hewan baik di daratan maupun di lautan yang tertata rapi membentuk rantai-rantai ekosistem dan berbagai keteraturan dan kesalingterkaitan?
Bagaimana pula dengan planet bumi yang terdiri atas trilyun trilyun trilyun ….. atom yang tertata sedemikian rapi dengan pergantian musimnya, hukum-hukum geologis, hukum-hukum meteorologi, siklus air, keteraturan arus-arus lautan, dan tak terhitung keteraturan-keteraturan lain?
Bagaimana pula dengan posisi bumi di tatanan tata surya, yang “melayang-layang” tanpa tiang bersama planet-planet lain; dan mengikuti berbagai aturan yang bahkan terukur dengan sangat nyata seperti hukum Keppler? Dengan posisi rotasi yang memungkinkan siklus empat musim? Bagaimana pula tata surya sebagai satu dari 100 milyar bintang yang berputar-putar mengitari pusat galaksi bima sakti?

"Tuhan" Filsafat


Di Barat, diskursus tentang Tuhan memang marak dan terkadang mirip guyonan. Presedennya karena teologi bukan bagian dari thawabit (permanen) tapi mutaghayyiat (berubah). Layaknya wacana furu' dalam fiqih. Ijtihad tentang Tuhan terbuka lebar untuk semua. Siapa saja boleh bertanya apa saja. Akibatnya, para teolog kuwalahan. Pertanyaan-pertanyaan rasional dan protes-protes teologis gagal dijawab. Teolog lalu digeser oleh doktrin Sola Scriptura. Kitab suci bisa difahami tanpa otoritas teolog, sosiolog, psikolog, sejarawan, filosof, saintis dan bahkan orang awam pun berhak bicara tentang Tuhan.

Hadits Nabi yang artinya “jika suatu perkara diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah waktu [kehancuran] nya”,  terbukti. Katolik pun terpolarisasi menjadi Protestan. Protestan menjadi Liberal dan al-sa'ah itu barangkali lahirnya apa yang disebut dengan modern atheism.

Apa kata Michael Buckley dalam At The Origin of Modern Atheism meneguhkan sabda Nabi. Ateisme murni di awal era modern timbul karena otoritas teolog diambil alih oleh filosof dan saintis.

Pemikir-pemikir yang ia juluki "para pembela iman Kristiani baru yang rasionalistis" seperti Lessius, Mersenne, Descartes, Malebranche, Newton dan Clarke, itu justru melupakan realitas Yesus Kristus. Tapi Newton tidak mau disalahkan, Trinitas telah merusak agama murni Yesus, katanya.

Descartes hanya percaya Tuhan filsafat, bukan Tuhan teolog, Lalu siapa yang bermasalah? Bisa kedua-duanya. Ini membingungkan. Pernyataan eksplisit bahwa Yesus itu Tuhan memang absen dari Bible. Ia dipahami hanya dari implikasi, sebab bahasa Bible itu susah, kata Duane A. Priebe.

Konsep Tuhan akhirnya harus dicari dengan hermeneutik dan kritik terhadap teks Bible. Tapi malangnya kritik terhadap Bible (Biblical Criticism), bukan tanpa konsekuensi. Biblical Criticism, kata Buckley, justru melahirkan ateisme modern.

Alasannya lugas dan logis. Ketika orang ragu akan teks Bible ia juga ragu akan isinya, akan kebenaran hakekat Tuhan dan kemudian tentang kebenaran eksistensi Tuhan sendiri. Hasil akhirnya adalah ateisme. Bukan hanya Biblenya yang problematik, tapi perangkat teologisnya tidak siap. Inilah masalah teologi.

Tapi ateisme modern bukan mengkufuri Tuhan, tapi Tuhan para teolog tuhan agama-agama. Yang problematik, kata Voltaire bukan Tuhan tapi doktrin-doktrin tentang Tuhan. Tuhan Yahudi dan Kristen, kata Newton problematik karena itu ia ditolak sains. Bahkan bagi Hegel, Tuhan Yahudi itu tiran dan Tuhan Kristen itu barbar dan lalim. Tuhan, akhirnya harus dibunuh. Nietzche pada tahun 1882 mendeklarasikan bahwa Tuhan sudah mati. Tapi ia tidak sendiri. Bahkan bagi Feuerbach, Karl Marx, Charles Darwin, Sigmund Freud, jika Tuhan belum mati, tugas manusia rasional untuk membunuhNya. Tapi Voltaire (1694-1778) tidak setuju Tuhan dibunuh. Tuhan harus ada, seandainya Tuhan tidak ada, kita wajib menciptakannya. Hanya saja Tuhan tidak boleh bertentangan dengan standar akal. Suatu guyonan yang menggelitik.

Belakangan Sartre (1905-1980) seorang filosof eksistensialis mencoba menetralisir, Tuhan bukan tidak hidup lagi atau tidak ada, Tuhan ada tapi tidak bersama manusia. "Tuhan telah berbicara pada kita tapi kini Ia diam". Sartre lalu menuai kritik dari Martin Buber (1878-1965) seorang teolog Yahudi. Anggapan Sartre itu hanyalah kilah seorang eksistensialis. Tuhan tidak diam, kata Buber, tapi di zaman ini manusia memang jarang mendengar. Manusia terlalu banyak bicara dan sangat sedikit merasa. Filsafat hanya bermain dengan imej dan metafora sehingga gagal mengenal Tuhan, katanya.

Itulah akibat memahami Tuhan tanpa pengetahuan agama, tulisnya geram. Filosof berkomunikasi dengan Tuhan hanya dengan fikiran, tapi tanpa rasa keimanan. Martin lalu menggambarkan "nasib" Tuhan di Barat melalui bukunya berjudul Eclipse of God. Saat Blaise Pascal (1623-1662) ilmuwan muda brilian dari Perancis meninggal, dibalik jaketnya ditemukan tulisan "Tuhan Abraham, Tuhan Ishak, Tuhan Yakub, bukan Tuhan para filosof dan ilmuwan." Kesimpulan yang sangat cerdar. Inilah masalah bagi para filosof itu.

Begitulah, Barat akhirnya menjadi peradaban yang "maju" tanpa teks (kitab suci), tanpa otoritas teolog, dan last but not least tanpa Tuhan. Barat adalah peradaban yang meninggalkan Tuhan dari wacana keilmuan, wacana filsafat, wacana peradaban bahkan dari kehidupan publik.

Tuhan, kata Diderot, tidak bisa jadi pengalaman subyektif. Jikapun bisa bagi Kant (1724-1804) juga tidak menjadikan Tuhan "ada". Berfikir dan beriman pada tuhan hasilnya sama. Kant gagal menemukan Tuhan. Kant mengaku sering ke gereja, tapi tidak masuk. Ia seumur-umur hanya dua kali masuk gereja: waktu di baptis dan saat menikah. Maka dari itu Tuhan tidak bisa hadir dalam alam pikiran filsafatnya.

Muridnya, Herman Cohen pun berpikir sama. "Tuhan hanya sekedar ide", katanya. Tuhan hanya nampak dalam bentuk mitos yang tak pernah wujud. Tapi anehnya ia mengaku mencintai Tuhan. Lebih aneh lagi ia bilang "Kalau saya mencintai Tuhan", katanya, "maka saya tidak memikirkanNya lagi." Hatinya kekanan fikirannya kekiri. Pikirannya tidak membimbing hatinya, dan cintanya tidak melibatkan pikirannya.

Tuhan dalam perhelatan peradaban Barat memang problematik. Sejak awal era modern Francis Bacon (1561-1626) menggambarkan mind-set manusia Barat begini: Theology is known by faith but philosophy should depend only upon reason. Maknanya teologi di Barat tidak masuk akal dan berfilsafat tidak bisa melibatkan keimanan pada Tuhan. Filsafat dan sains di Barat memang area non-teologis alias bebas Tuhan. Tuhan tidak lagi berkaitan dengan ilmu, dunia empiris. Tuhan menjadi seperti mitologi dalam khayalan. Akhirnya Barat kini, dalam bahasa Nietzche, sedang "menempuh ketiadaan yang tanpa batas".

Tapi anehnya, kita tiba-tiba mendengar mahasiswa Muslim "mengusir" Tuhan dari kampusnya dan membuat plesetan tentang Allah gaya-gaya filosof Barat. Ini guyonan yang tidak lucu, dan wacana intelektual yang wagu. Seperti santri sarungan tapi dikepalanya topi cowboy Alaska yang kedodoran. Tidak bisa sujud tapi juga tidak bisa lari. Bagaikan parodi dalam drama kolosal yang berunsur western-tainment.

Konsep Tuhan dalam tradisi intelektual Islam tidak begitu. Konsep itu telah sempurna sejak selesainya tanzil. Bagi seorang pluralis ini jelas supremacy claim. Tapi faktanya Kalam dan falsafah tidak pernah lepas dari Tuhan. Mutakallim dan filosof juga tidak mencari Tuhan baru, tapi sekedar menjelaskan. Penjelasan Al-Quran dan hadith cukup untuk membangun peradaban.

Ketika Islam berhadapan dengan peradaban dunia saat itu, konsep Tuhan, dan teks Al-Quran tidak bermasalah. Hermeneutika allegoris Plato maupun literal Aristotle pun tidak diperlukan. Hujatan terhadap teks dan pelucutan otoritas teolog juga tidak terjadi. Malah kekuatan konsep-konsepnya secara sistemik membentuk suatu pandangan hidup (worldview).

Islam tidak ditinggalkan oleh peradaban yang dibangunnya sendiri. Itulah sebabnya ia berkembang menjadi peradaban yang tangguh. Roger Garaudy yang juga bule itu paham, Islam adalah pandangan terhadap Tuhan, terhadap alam dan terhadap manusia yang membentuk sains, seni, individu dan masyarakat.

Islam membentuk dunia yang bersifat ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus. Jika peradaban Islam dibangun dengan gaya-gaya Barat menghujat Tuhan itu berarti mencampur yang al-haq dengan yang al-batil alias sunt bona mixtra malis. Wallahu alam.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sebagai penutup saya kutip perkataannya Al Ghazali dalam bukunya Al-Maqasidul Asna, yang membahas tentang Asma' Alhusna, bahwa "Ketuhanan" adalah sesuatu yang hanya dimiliki Allah, tidak dapat tergambar dalam bentuk benak, bahwa ada yang mengenalnya kecuali Allah atau yang sama dengan-Nya, dan karena tidak ada yang sama dengan-Nya, maka tidak ada yang mengenalnya kecuali Allah. Tidak ada yang mengenal Allah kecuali Allah Yang Maha Tinggi sendiri, karena itu Dia tidak menganugerahkan kepada hamba-Nya yang termulia (Muhammad saw) kecuali nama yang diselubungi dengan firman-Nya "Sabbihisma Rabbika al A'la", Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. Demi Allah tidak ada yang mengetahui Allah – di dunia dan di akhirat- kecuali Allah. Karena itu –tulis Al-Ghazali; "Jika Anda bertanya apakah puncak pengetahuan orang-orang arif tentang Allah?" Saya menjawab –kata Al-Ghazali-, "Puncak pengetahuan orang-orang arif adalah ketidakmampuan mengenal-Nya". Sesuai dengan yang diisyaratkan Nabi Muhammad saw ; Saya –Ya Allah- tidak menjangkau pujian untuk-Mu dan mencakup sifat-sifat ketuhanan-Mu. Hanya Engkau sendiri yang mampu untuk itu" – H.R. Ahmad.










DAFTAR PUSTAKA
 Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994, hlm 4
Bertens, K., 1987., “Panorama Filsafat Modern”,Gramedia Jakarta, p.14, 16, 20-21, 26.
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer,  Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,  hlm. 234
Koento Wibisono S. dkk., 1997., “FilsafatIlmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan”, Intan Pariwara,Klaten, p.6-7, 9, 16, 35, 79.
Prasetya, Filsafat Pendidikan, Bandung : Pustaka Setia, 1997, hlm.33
http://empiris-homepage.blogspot.com/2009/11/tuhan-filsafat.html; November 2012
http://filsafatislam.net/keteraturan-sebagai-bukti-keberadaan-tuhan/; November 2012
http://www.mahasiswakeren.com/artikel/101apakah.html; November 2012
http://www.jadilah.com/2011/11/filsafat-ketuhanan.html; November 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tuliskan komentar dan saran anda disini!